Posted by : Edwin Prasetio 30 Oktober 2011

Pekan depan Idul Adha (Idul Qurban) datang. Kembali kita sambut momen mulia dalam melatih kepekaan sosial dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Untuk me-recall motivasi kita dalam berkurban, tak ada salahnya kita sedikit me-refresh pengetahuan mengenai Qurban. Semoga sharing ini ada manfaatnya.

Ibadah Qurban disyariatkan berdasarkan dalil Al-Quran, sunah, dan ijma’. Dalil Quran menyatakan, “Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berqurbanlah” (QS 108:2). Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa “nahr” di sini adalah menyembelih qurban, yaitu menyembelih unta atau sejenisnya.

Sedangkan dalil Hadist menyebutkan, dari Aisyah ra: “Sesungguhnya Nabi SAW bersabda bahwa tidak ada suatu amal yang dikerjakan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang teramat dicintai Allah SWT melainkan mengalirkan darah dan sesungguhnya dia (binatang qurban) itu kelak di hari qiyamat sungguh akan datang dengan tanduknya, kukunya, dan rambutnya; dan sesungguhnya darah itu akan sampai kepada Allah di tempat (pemotongan) sebelum binatang itu jatuh ke tanah. Karena itu, niatkanlah dalam qurban itu dengan hati yang tulus.” (HR Ibnu Majah dan Turmudzi dan Hasan Gharib)

Hukum Qurban

Menurut pendapat jumhur, hukum Qurban adalah sunnah mu’akad. Bila dilakukan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Demikian yang dikatakan Imam Malik. Namun beliau menekankan, “Saya tidak menyukai seseorang yang kuat (sanggup) untuk membelinya (binatang qurban) namun meninggalkannya. Demikian pula Imam Syafi’i berpendapat.

Boleh berqurban untuk seluruh keluarga

Berdasarkan hadist Abu Ayyub Al-Anshary ra, disebutkan bahwa di masa Rasulullah SAW ada seseorang berqurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarganya (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dengan sanad shahih). Demikian juga dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi, mereka berpendapat bahwa seseorang boleh berqurban untuk dirinya, pengikutnya, dan keluarganya. Mereka semua mendapatkan pahala.

Sunah Qurban

Disunahkan seorang muslim untuk bersentuhan langsung dengan hewan qurbannya (menyembelih sendiri). Namun diperbolehkan untuk diwakilkan kepada orang lain dalam menyembelih qurbannya (HR At-Tirmidzi, Malik, Ibnu Majah). Disunahkan bagi keluarga yang menyembelih qurban untuk ikut memakan hewan qurban tersebut dan menghadiahkan serta bersedekah dengannya. Ini berdasarkan hadist Nabi: “Makanlah kalian, simpanlah, dan bersedekahlah (daging qurban)” (HR Bukhori). Selain itu, juga disunahkan untuk bertakbir dan mengucapkan Basmalah ketika menyembelih qurban, sesuai dengan hadist Nabi bahwa beliau menyembelih dengan tangannya dan mengucapkan Basmalah serta bertakbir (HR Bukhori)

Upah tukang potong

Tidak diperbolehkan sedikit pun mengambil bagian daging qurban sebagai upah tukang potong/ jagal. Berdasarkan keterangan dari Ali ra, dinyatakan bahwa beliau disuruh Rasulullah SAW mengurus penyembelihan unta-untanya, membagikan kulit serta dagingnya, dan beliau dilarang memberikan sesuatu pun daripadanya. Beliau menegaskan bahwa upah itu diberikan dari hartanya sendiri (HR Muttafaqalaih).



Sumber:
Panitia Qurban Masjid Ar-Roudloh
Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur


.

366 Responses so far.

«Paling tua   ‹Lebih tua   1 – 200 dari 366   Lebih baru›   Terbaru»
«Paling tua ‹Lebih tua   1 – 200 dari 366   Lebih baru› Terbaru»

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Edwin's Blog - Template: Metrominimalist | Jasa Adwords - Powered by: Blogger - Designed by: Johanes Djogan

Ahli SEO | cupuwatu resto tempat kuliner khas jogja