Posted by : Edwin Prasetio 28 Januari 2010

Tadi pagi saat saya berangkat kerja, saya senang karena lalu lintas lancar dan jalan tidak macet. Beberapa titik jalan yang biasanya langganan macet cukup longgar tadi. Tapi saat saya melintas di Gedung Negara Grahadi –yang cuma berjarak 100 meter sebelum kantor saya- jalan mendadak macet. Jalan di depan gedung yang biasa digunakan untuk acara seremonial gubernur Jatim itu dipenuhi banyak polisi dan kendaraan taktis. Seperti mau ada perang.

Memangnya ada apa? Ternyata, para anggota penegak keamanan itu sengaja berjaga-jaga sejak pagi untuk mengantisipasi demo yang akan digelar di depan Grahadi. Demo untuk memprotes dan menggugat 100 hari pemerintahan Presiden SBY dan Wapres Budiono. Banyaknya personel dan sarana pengamanan menunjukkan kalau polisi tak ingin mengambil risiko akan potensi kerusuhan, mengingat demo itu juga serentak dilaksanakan di setiap daerah.

Saya lalu berpikir: demo lagi, demo lagi. Apa sih yang sebenarnya dicari para demonstran itu? Perubahan nasib pribadi? Perubahan nasib bangsa? Atau sekedar melontarkan wacana dan pembelajaran politik untuk publik? Saya yakin pertanyaan seperti itu juga terngiang di benak anda.

Kalau saya sih punya pendapat pribadi. Memang ini sangat subjektif karena berdasarkan pengalaman saya sendiri saat masih gemar berdemo di masa mahasiswa dahulu. Jadi saya harap anda tidak menjustifikasi bahwa pendapat saya ini mewakili motivasi para demonstran secara umum, ya :-D

Hampir sebelas tahun lalu saya pernah memimpin sebuah gerakan demo. Kala itu saya menjadi koordinator parliament watch di sebuah organisasi di kampus saya. Otonomi daerah menjadi isu yang paling hot saat itu. Karena itulah banyak muncul organisasi pemantau parlemen untuk memelototi kinerja dewan (DPR maupun DPRD) yang baru saja mendapat wewenang yang otonom untuk bekerja, tidak lagi menjadi ‘tukang stempel’ pemerintah seperti zaman orde baru dulu.

Saya baru lulus kuliah waktu itu. Pengalaman kerja belum ada, bagaimana mau berbuat? Nah, bergabung di sebuah organisasi adalah pilihan tepat dan logis :-) Di sana saya bisa mendapat banyak ilmu dan pengalaman yang diharapkan bermanfaat ke depan. Dan memang benar.

Salah satu agenda kami adalah demo ke DPRD Surabaya. Mengorganisir sebuah demo melatih kemampuan memimpin, bekerja sama, berkomunikasi, membangun jaringan, dan melatih mental. Kalau dipikir-pikir, semua itu dibutuhkan dalam dunia kerja, bukan? Temanp-teman saya kala itu berposisi sama dengan saya. Baru lulus kuliah dan belum bekerja. Yang masih kuliah juga banyak. Dan ternyata, ‘skill’ yang didapat dari demo itu menjadi modal berharga dalam curriculum vitae. Setiap kali wawancara kerja, pengalaman berorganisasi menjadi kekuatan utama saya, meskipun saya tidak pernah melampirkan ijazah penunjang selain ijazah sarjana dan transkrip nilai.

Bagi seorang demonstran yang idealis, pengalamannya berdemonstrasi memang benar-benar dijadikan ‘amunisi’ untuk menapaki karier politik. Contohnya Budiman Sudjatmiko yang kini terjun di parpol dan M. Sholeh yang kini mencalonkan diri menjadi calon walikota Surabaya. Tapi bagi saya yang tidak suka bidang politik (meskipun punya gelar Sarjana Ilmu Politik), berdemonstrasi saya manfaatkan untuk AKTUALISASI DIRI.

Dan kalau saya amati, kebanyakan peserta demo di jalan-jalan punya orientasi seperti saya. Banyak di antara mereka yang sesungguhnya tidak paham akan esensi demo yang mereka lakukan.

Itulah opini saya tentang apa yang sesungguhnya dicari dari demo di jalan. Saya pikir alasan saya benar. Dan jika anda punya pendapat lain, saya pikir itu juga benar. Memang banyak hal yang melatarbelakangi seseorang untuk berdemo.

Apakah anda juga pernah ikut demo?

34 Responses so far.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Edwin's Blog - Template: Metrominimalist | cipto junaedy - Powered by: Blogger - Designed by: Johanes Djogan

Jual Madu | Rental Mobil Semarang | Konsultan SEO